Posts Tagged ‘love’

When Love Come Too Late…

Posted: Desember 20, 2009 in Uncategorized
Tag:

Kita akan bisa tahu seberapa besar rasa sayang kita pada seseorang,
justru saat kita benar-benar sudah kehilangan orang tersebut.
Tetapi begitu besar kekecewaan dan pengorbanan yang harus kita tanggung
jika kita harus kehilangan dulu untuk dapat menyadari seberapa besar rasa
sayang kita pada seseorang.

Saat kita “terjatuh” dan kita “terluka”, mungkin kita menutup hati kita,
bahkan saat hati kita satu saat terbuka kembali, kita tetap membohongi
diri sendiri, menyangkal perasaan kita sendiri…Namun akibatnya kita
mendatangkan luka yang kian besar lagi, saat kita terlambat menyadari
seberapa besar rasa sayang kita pada seseorang…
Ada suatu cerita yang berjudul:
Wortel, Telur Ato Kopi?, yang bercerita begini…

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan
mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana
menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang.
Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air
dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih.
Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia
menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa
berkata-kata.

Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang
sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan
meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk
lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya:
“Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak.
Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia
melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu
memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya,
ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya
memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi
dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”. Ayahnya
menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama,
perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel
sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus,
wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang
tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus,
isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah
berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu
termasuk yang mana?,” Tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau
menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras,
tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi
lunak dan kehilangan kekuatanmu. Apakah kamu adalah telur, yang awalnya
memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya
kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku.
Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras
dengan jiwa dan hati yang kaku? Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk
kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk
mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air
mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti
bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi
semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

Kadang kita justru menjadi seperti telur dan bersikap dingin, kita
menolak apabila ada suatu perasaan bertumbuh, dan berusaha menguburnya
kembali dengan rasio kita. Kadang kita juga justru menjadi seperti wortel
dan kita merasa tidak punya cukup kekuatan lagi untuk kembali berdiri dan
memberanikan diri untuk kembali menegakkan kepala kita.
Namun, semua hal ini justru akan menambahkan luka yang lebih dalam lagi
saat kita ternyata telah memiliki perasaan yang telah bertumbuh namun
kita kembali kehilangan karena kita tidak memberanikan diri untuk
melangkah dan kita menolak mengakui adanya perasaan itu.

“Kesempatan hanya datang satu kali”. Datang satu kali, bukan berarti
hanya dalam satu titik waktu saja, tapi mungkin satu rentang waktu… Tapi
saat kita melepaskan kesempatan itu, rentang waktu ini akan menjadi tidak
berarti, kita telah kehilangan kesempatan itu saat kita melepaskannya…

Cinta mungkin datang satu kali, dua kali, tiga kali…tapi kita tidak
pernah tahu kapan cinta benar-benar takkan datang lagi…
Jika saat ini kamu menyayangi seseorang, mencintai seseorang, mungkin
cinta yang ada padamu hanya minta diperjuangkan… Jangan sampai kita
menyadari seberapa besar rasa sayang kita pada seseorang saat kita telah
benar-benar kehilangannya. Meskipun adanya “jodoh” tapi kita manusia
takkan bisa menghargai sesuatu yang diperoleh dengan cuma-cuma atau
dengan mudah.

Begitu juga CINTA, sering kita berdalih, “Kalau memang jodoh takkan
kemana…”. Namun, bukan begitu seharusnya. Kita harus memperjuangkan cinta
kita karena dengan demikian kita dapat menghargai CINTA itu sendiri dan
pasangan kita yang merupakan jodoh kita, yang diberikan-Nya pada kita.
Dengan demikian kita tidak akan menyia-nyiakannya sekali pun.